Dunia ini menjadi semakin tidak aman. Benar apa kata seorang penulis dan sastrawan bernama “Seno Gumira Ajidarma” dalam bukunya berjudul, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Jurnalisme itu terikat oleh beberapa kendala—mulai dari bisnis sampai politik untuk menghadirkan dirinya, tetapi kendala sastra hanyalah Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai). Seno Gumira Ajidarma adalah putra dari Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo , seorang guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada . [VRITTA WARTA] Malam puncak Anugerah Dewan Pers 2023 yang dilaksanakan pada Jumat (10/11) lalu menobatkan LPM Sketsa Unmul sebagai pemenang katagori Feature… CATATAN TENTANG BUKU "KETIKA JURNALISME DIBUNGKAM SASTRA HARUS BICARA"***"Hidup ini bisa kita buat agak lebih menyenangkan, jika kita memang 'menghend Tentang Buku Seno Gumira Ajidarma, "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara" Halaman 3 - Kompasiana.com Kedua, rasa mendayu-dayu selalu dikaitkan dengan sastra. Seno tidak setuju dengan hal tersebut. "Mendayu-dayu itu pura-pura sastra, kecuali meledek," kekeh penulis buku 'Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara' ini. Terakhir, lanjut Seno, isi karya sastra adalah pedoman hidup. “KETIKA jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Berikut ini rekomendasi 10 buku yang sebaiknya kamu baca lebih dulu. 1. Saksi Mata - Seno Gumira Ajidarma. Saksi mata itu datang tanpa mata. Itulah kalimat pertama dalam cerpen 'Saksi Mata' yang menjadi cerita pembuka dalam buku ini. Kumpulan cerpen karangan Seno Gumira Ajidarma ini terdiri dari 16 cerpen, yang mana semuanya pernah diterbitkan Sepanjang dua novel itu SGA terus berstrategi memasukkan laporan jurnalistik baik dalam bentuk percakapan maupun paparan. Bahkan bahasa “Dagadu” pun ikut menjadi siasat. Seperti dijelaskan dalam Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, kata Timtim diubah jadi Gidgid, Dili menjadi Ningi dan Fretilin menjadi Hyegingid. vEPy.